Senin, 08 September 2008

PEMILIK KATA MAAF


Sebuah lagu jazz yang mengalun lembut di kamarku tak berhasil merayu jari-jariku yang lincah meloncat-loncat diatas keyboard laptop.Sungguh gerakan yang tak harmonis dengan alunan melodinya.Seperti situasi yang sedang kualami detik ini.Kesalahfahaman teman-temanku memberikan efek ketidakharmonisan antara kami.Awalnya seperti samudera yang tenang,namun ternyata mereka menaruh rahasia didasar samudera hati mereka.Sebenarnya,aku bingung akan persahabatan yang selalu diumbar para teman temanku.Aku bercerita pada media substitusi hati dan menjadi sosok gadis melankolis yang selalu menaruh segala perasaanya lewat lembaran kertas.Aku mulai melukiskan perasaan dan pandanganku dalam bentuk huruf-huruf yang tergabung menjadi beberapa kata yang tersusun menjadi kalimat-kalimat bermaksud.

Diluar,bola api raksasa dunia telah condong ke barat,langit begitu sendu selaras dengan udara yang begitu menusuk-nusuk tulangku.Ujung-ujung jarikupun beku,dingin seperti sikap teman-temanku saat ini,entahlah…apa kesalahan begitu sulit termaafkan?aku mengerti,kata maaf memang tak bisa menggantikan keadaan yang tak diinginkan,apalagi jika keadaan itu telah berlalu.Apa bagi teman-temanku kesalahan itu tak bisa diperbaiki?Mungkin masalah ini terletak pada kesalahan apa yang telah diperbuat.Aku berlari-lari dalam pikiranku,kesalahanku adalah tak pernah memberi kabar pada mereka,aku menghilang dari pandangan mereka,aku menjadi seorang dewasa yang autis di duniaku yang lama,aku menghapus jejak-jejak perjuangan dan rekaman-rekaman indah bersama mereka,aku telah mengganti pakaian hidupku dan membuang yang lama dengan yang baru.Oh kawan,itu tidak benar.Maukah kalian mendengar penjelasanku?dan taukah kalian apa yang terjadi selama aku pergi?hm…aku menghela napas,sepertinya penjelasanku percuma,buktinya pesan-pesan singkatku tak lagi dibalasnya,bahkan kata maafku hanya dianggap kesatuan dari huruf M,A,A,dan F,ataukah mungkin aku yang terlalu dijejali pikiran negatif?

Menit-menitpun berlalu,kutengok keluar jendela kamarku,rupanya terang berganti gelap,lagu berganti lagu,kamarku masih dialuni melodi dan kulihat hasil loncatan loncatan jariku diatas keyboard laptop.Tak terasa ternyata kulalui waktu bersama karya sastraku
Terjal menjejal
Buntu dipandanganku
Kawan,aku hilang dalam bekumu

Ketika ku mengetikkan kata-kata itu diatas laptopku,seseorang menerobos masuk kamarku tanpa mengetuknya lebih dulu,aku baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu,aku tidak merasakan ada keterkaitan batin dengannya,aku merasa dia bukanlah calon sahabatku.Ya,seperti biasa dia selalu mengangkat jantungku lalu menjatuhkannya dalam hitungan kurang dari satu detik,itu dia lakukan hanya dengan suaranya yang begitu lantang.Kedatangannya mengacaukan susunan kata-kata yang penuh dengan jutaan makna dalam terawangan sastraku.Aku jadi teringat teman-temanku saat aku masih di dunia putih abu-abu.Ya,teman-temanku yang sekarang sedang memamerkan kebekuannya padaku.

Pertama kali aku mengenal mereka tidak sama sekali terbesit bahwa aku dan mereka akan berjalan hingga sejauh ini,menangis dan tertawa bersama.Apa mereka tidak merasakan bahwa aku begitu menderita teraniaya rindu karena mereka?disini aku tercekik masalah finansial,daya tahan tubuhku menurun,aku melemah,seluruh tubuhku tersiksa kerinduan,aku ksakitan,aku lelah dikejar gerakan paksa dari sebuah keadaan, dan aku ingin mengakhiri penganiayaan ini dengan menepikannya lewat tatap temu dengan mereka.Namun,ketika semua keadaan membaik,cekikan finasial kupaksa melonggar,dan kutelan kepahitan-kepahitan obat agar kulekas sembuh dan dapat menyisakkan waktuku untuk memberi kalian kabar tentangku,tapi saat waktu itu tiba mereka tampak seperti hakim yang menyeramkan.Aku sungguh tak tau diri datang tanpa perasaan bersalah setelah menghilang berminggu-minggu.Aku sungguh tak tahu kalau aku telah mengecewakan mereka.

Aku tidak menemukan orang-orang seperti mereka disini.Aku kebingungan karena aku tidak yakin mereka bisa tergantikan,kumerasakannya saat aku berbincang dengan temanku yang baru kukenal dua minggu lalu itu.Aku bertanya-tanya,apakah dia bisa menjadi seperti teman-temanku yang dulu?bukankah pada awal kumengenal teman-temanku itu akupun tak pernah mengira kalo mereka akan berjalan sejauh ini denganku?apakah akan terjadi hal yang sama?lalu apakah arti persahabatan untuk temanku yang baru ini?apakah mereka menjungjung tinggi arti persahabatan seperti teman-teman putih abu-abuku?

Sebenarnya,aku tidak total percaya pada persahabatan murni,apakah sahabat sejati itu ada?ya,aku tahu itu ada,tapi untuk detik ini aku masih belum menemukannya,karena aku sendiri merasa kalau diriku bukanlah termasuk sahabat yang baik,aku masih mengecewakan mereka yang bahkan mengganggap bahwa diriku sahabat mereka,aku hanya bisa mengeluarkan sampah hatiku lewat puisi ini untuk mereka

Kita bukan hitam atau putih
Kita hanya lengkungan pelangi
Aku bukan malaikatmu
Aku bisa menjadi iblis bagimu
Maaf
Maafkan aku

Buatku sahabat dan persahabatan merupakan sastra karena sahabat bukanlah imitasi,dan persahabatan merupakan sintesis sintesis antarahal yang bertentangan,karena dalam persahabatan banyak perbedaaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan yang dapat menimbulkian konflik rumit sehingga kita dituntut untuk mencari alternatif dalam menyelesaikan konflik tersebut.

Ketika pertentangan mencuat dalam persahabatan,atau ketika kesalahfahaman timbul tak terduga sehingga ada hati yang merasa tersakiti,terkhianati,ataupun terlukai,apakah kata maaf masih berlaku?jika persahabatan sejati itu ada,aku yakin meminta maaf, dan memberi maaf akan sangat dijunjung tinggi disana.Lalu apakah aku masih tidak pantas untuk dimaafkan?tidak sepenuhnya,aku yakin mereka mengerti dan pemberi maaf,karena kuyakin mereka adalah pemberani dan berjiwa satria.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda